- Bupati Bantul menegaskan pentingnya sikap ilmiah dan pemahaman Islam yang moderat dalam menghadapi tantangan kehidupan antarumat beragama di Kabupaten Bantul.
- Anggota DPD RI DIY menguraikan peran guru sebagai teladan dalam membentuk generasi digital yang berkarakter, kritis, kreatif, inovatif, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak.
BANTUL, NUR.ac.id—Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (M-PAI) Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta menggelar studium generale bertajuk “Teaching for Tomorrow: Menyiapkan Generasi Unggul melalui Pendidikan Islam yang Moderat dan Transformatif” di Auditorium IIQ An Nur Yogyakarta, Kamis (1/10/2026).
Kegiatan yang diikuti 40 peserta ini menghadirkan Bupati Kabupaten Bantul, H. Abdul Halim Muslih, sebagai keynote speaker dan anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A., sebagai narasumber. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari penyambutan mahasiswa baru M-PAI tahun akademik 2026/2027.
Halim menyampaikan bahwa masyarakat Bantul memiliki kehidupan sosial-keagamaan yang kuat. Meski demikian, ia menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi, seperti perbedaan pandangan di internal umat Islam Bantul hingga dinamika antarumat beragama. Oleh sebab itu, Halim mendorong pentingnya para pendidik memiliki sikap ilmiah dalam menyikapi berbagai persoalan keagamaan.
“Sebagai pembelajar yang baik, Anda perlu menggunakan sikap ilmiah dan tidak mudah percaya sebelum melakukan penelusuran,” ujar Halim.
Halim juga mengingatkan agar guru PAI tidak menyampaikan pemahaman keagamaan yang keras dan tidak toleran kepada siswa. Sebaliknya, pendidikan Islam perlu mengedepankan nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Sementara itu, Hilmy membahas karakter generasi muda yang saat ini tumbuh sebagai generasi digital. Menurutnya, kedekatan peserta didik dengan teknologi membawa peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan. Di antara banyak peluang, tantangannya adalah guru dituntut berperan penting sebagai teladan.
“Guru itu digugu lan ditiru (jadi sumber ilmu dan dipatuhi), bukan diguyu lan ditinggal turu (ditertawakan dan ditinggal tidur),” tutur Hilmy.
Hilmy mengatakan, pendidikan transformatif perlu membekali peserta didik dengan kejujuran, kerendahan hati, keberanian, kesopanan, etos kerja, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, inovasi, dan komunikasi. Peserta didik juga perlu memiliki wawasan dalam bidang bahasa, teknologi, dan budaya.
Pimpinan Pascasarjana IIQ An Nur Yogyakarta, Dr. Moch. Taufiq Ridho, M.Pd., menyampaikan bahwa di antara banyak tantangan, baik yang muncul dari hadirnya media digital maupun dekadensi pemahaman keagamaan masyarakat, M-PAI IIQ An Nur Yogyakarta diharapkan menjadi jawaban atas tantangan tersebut.
“Selain mempersiapkan menjadi guru yang mengajar di kelas, Magister PAI IIQ An Nur juga bertekad mempersiapkan guru yang mampu mentransformasikan ilmu kepada masyarakat,” ucap Taufiq. [MAF]
